Pengalaman Klien Kami
Strategi Enterprise Architecture untuk BTPN Syariah
Kami melakukan penilaian kematangan EA yang komprehensif yang mencakup orang, proses, tata kelola, dan alat. Berdasarkan temuan tersebut, kami merancang Model Operasional EA masa depan yang disesuaikan dengan konteks bisnis unik BTPN Syariah.
Penilaian Multi-cloud untuk Bank Digital
Kami melakukan penilaian multi-cloud komprehensif, mengevaluasi faktor teknis, operasional, keamanan, dan regulasi. Tim kami meninjau arsitektur cloud bank yang ada, mengidentifikasi area risiko utama, dan menilai kesiapan untuk adopsi multi-cloud.
Tinjauan dan Pembangunan Ulang GRC TI untuk Bank Digital
Kami melakukan tinjauan menyeluruh terhadap instrumen tata kelola TI bank, termasuk kebijakan, prosedur, dan mekanisme pengendalian. Kesenjangan diidentifikasi berdasarkan kerangka kerja terkemuka seperti COBIT, NIST, dan ISO 27001, serta standar peraturan yang berlaku.

Memberdayakan BTPN Syariah untuk Memperkuat Kemampuan Arsitektur Perusahaan
BTPN Syariah adalah lembaga perbankan syariah terkemuka di Indonesia, yang berkomitmen untuk mempromosikan inklusi keuangan dan pembangunan berkelanjutan. Sebagai bagian dari perjalanan transformasi digitalnya, BTPN Syariah menyadari pentingnya strategis untuk memperkuat fungsi Arsitektur Perusahaan (Enterprise Architecture/EA) guna menyelaraskan inisiatif TI dengan tujuan bisnis dan memastikan ketangkasan operasional jangka panjang.
Fase 1 – Assessment Kematangan Enterprise Architecture
- Melakukan assessment terhadap kondisi kapabilitas EA saat ini pada aspek People, Process, Tools, dan Communication.
- Mengidentifikasi permasalahan utama (key pain points) serta kesenjangan tingkat kematangan (maturity gaps).
- Menyusun rekomendasi perbaikan yang terarah serta menyediakan template arsitektur yang terstandarisasi.
Fase 2 – Operasionalisasi Enterprise Architecture
- Mengimplementasikan rekomendasi utama terkait Roles & Responsibilities (R&R) ke dalam instrumen tata kelola EA, seperti SOP, KPI, dan kebijakan terkait.
- Menetapkan dokumen dan artefak standar EA, termasuk architecture review checklist, template, serta panduan pelaksanaan proses arsitektur.
- Menyusun EA Handbook sebagai pedoman bagi seluruh peran arsitek di Bank, mencakup Enterprise Architect, Domain Architect, dan Solution Architect.
Fase 3 – Pelatihan EA Enablement
- Menyelenggarakan program pelatihan interaktif dan berbasis praktik (hands-on) bagi lebih dari 40 pemangku kepentingan EA.
- Membahas topik-topik utama, termasuk penyelarasan bisnis dan TI (Business-IT Alignment), tata kelola EA, architecture debt, serta pemanfaatan kerangka kerja seperti TOGAF.
- Menyusun dan menyampaikan materi pelatihan yang disesuaikan dengan model operasional dan tingkat kematangan arsitektur BTPNS untuk memastikan relevansi dan penerapan yang efektif.
Dampak
- Menetapkan EA Operating Model yang jelas, terstruktur, dan siap mendukung kebutuhan organisasi di masa depan.
- Meningkatkan kolaborasi lintas fungsi melalui kejelasan peran dan tanggung jawab EA di seluruh organisasi.
- Membangun standar dokumentasi, template, dan artefak arsitektur yang konsisten di seluruh lapisan arsitektur.
- Meningkatkan kapabilitas internal EA melalui pelatihan yang praktis, aplikatif, serta didukung oleh artefak yang dapat digunakan kembali.
- Memperkuat tata kelola arsitektur (architecture governance) dan kualitas pengambilan keputusan terkait investasi serta inisiatif teknologi.
Tantangan
BTPN Syariah berupaya memperkuat kemampuan Arsitektur Perusahaan (Enterprise Architecture/EA) untuk mendukung transformasi digital dan kepatuhan terhadap regulasi dengan lebih baik. Bank tersebut membutuhkan pemahaman yang jelas tentang tingkat kematangan EA saat ini dan peta jalan terstruktur menuju fungsi arsitektur yang lebih lincah dan selaras dengan bisnis. Selain itu, strategi EA harus mencerminkan dan selaras dengan misi bank untuk memberikan layanan keuangan digital yang inklusif secara bertanggung jawab.
Pendekatan Kami
KED Consulting melakukan penilaian kematangan EA (Enterprise Architecture) yang komprehensif, meliputi aspek SDM, proses, tata kelola, dan alat. Melalui lokakarya dan wawancara, kami membandingkan praktik saat ini dengan kerangka kerja EA terkemuka dan mengidentifikasi area peningkatan utama di berbagai domain.
Berdasarkan wawasan ini, kami merancang Model Operasional EA (Enterprise Architecture) masa depan yang disesuaikan dengan konteks bisnis dan regulasi BTPN Syariah, memastikan keselarasan antara strategi bisnis, inisiatif TI, dan kepatuhan Syariah.
Keterlibatan ini juga mencakup penetapan struktur tata kelola, mekanisme pengambilan keputusan, dan inisiatif pengembangan kemampuan untuk menanamkan disiplin EA di dalam organisasi.
Dampak
Model Operasional Arsitektur Perusahaan yang baru memperkuat keselarasan antara bisnis dan TI, meningkatkan pengambilan keputusan, dan meningkatkan kelincahan dalam menyampaikan inisiatif digital. KED Consulting mendukung bank dalam mengoperasionalkan perubahan-perubahan penting, mulai dari mengklarifikasi peran dan tanggung jawab hingga menetapkan rutinitas tata kelola EA dan program pengembangan kompetensi.
Hasilnya, BTPN Syariah kini berada pada posisi yang lebih baik untuk mengelola pertumbuhan digital secara strategis, memastikan keselarasan dengan regulasi, dan mendorong inisiatif teknologi melalui fungsi EA yang lebih kohesif dan adaptif.
Program pemberdayaan yang diberikan oleh KED Consulting merupakan titik balik dalam cara kami mengelola dan mengimplementasikan Arsitektur Perusahaan di BTPN Syariah. Pendekatan terstruktur, pelatihan langsung, dan dukungan berkelanjutan membantu kami memperoleh kejelasan, kepercayaan diri, dan konsistensi dalam praktik arsitektur kami. Kini kami lebih siap untuk mendorong keselarasan bisnis-TI dan mendukung tujuan transformasi kami.

Asesmen Multi-Cloud
Sebuah bank digital terkemuka berupaya mengurangi risiko operasional yang timbul dari ketergantungan pada satu platform cloud. Bank tersebut membutuhkan strategi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti untuk menilai kelayakan penerapan arsitektur multi-cloud.
Tantangan
Sebuah bank digital terkemuka berupaya mengurangi risiko operasional yang timbul dari ketergantungan pada satu penyedia cloud. Meskipun pengaturan cloud yang ada mendukung kinerja dan skalabilitas yang kuat, tim manajemen menyadari risiko yang muncul terkait dengan ketergantungan pada vendor, kewajiban kepatuhan, dan fleksibilitas jangka panjang.
Bank tersebut menugaskan KED Consulting untuk melakukan penilaian risiko independen dan studi kelayakan guna menentukan apakah transisi ke arsitektur multi-cloud akan memberikan ketahanan nyata dan nilai strategis — atau justru menimbulkan kerumitan dan biaya yang tidak perlu.
Pendekatan Kami
KED Consulting melakukan penilaian kelayakan multi-cloud, meneliti masalah ini dari berbagai dimensi — teknis, operasional, keamanan, dan regulasi. Pekerjaan kami meliputi:
- Mengevaluasi arsitektur saat ini untuk memahami ketahanan, distribusi beban kerja, dan efektivitas kontrol yang ada.
- Menilai skenario risiko yang terkait dengan ketergantungan pada satu cloud, termasuk dampak gangguan, residensi data, dan paparan kontraktual.
- Membandingkan model adopsi multi-cloud , menganalisis implikasi biaya, tantangan interoperabilitas, dan kompleksitas integrasi.
- Melibatkan pemangku kepentingan dari tim TI, risiko, dan kepatuhan untuk menyelaraskan prioritas strategis dan harapan regulasi.
Studi ini memberikan pandangan berbasis bukti tentang kesiapan dan studi kelayakan bisnis bank untuk adopsi multi-cloud, termasuk faktor pendukung utama, kesenjangan, dan pertimbangan yang perlu diperhatikan.
Dampak
Penilaian tersebut memberikan justifikasi berbasis risiko untuk hal-hal berikut yang dilakukan bank:
- Gambaran paparan risiko cloud saat ini dan postur ketahanan.
- Wawasan menyeluruh mengenai faktor biaya, kinerja, kepatuhan, dan operasional.
- Rekomendasi yang menguraikan kondisi di mana adopsi multi-cloud akan layak, termasuk perubahan arsitektur yang diperlukan, peningkatan tata kelola, dan pertimbangan urutan implementasi.
Penilaian dari KED Consulting membekali bank dengan kejelasan untuk membuat keputusan yang tepat dan berbasis risiko, sehingga memungkinkan jalur strategis dan terukur menuju masa depan multi-cloud yang tangguh dan sesuai dengan peraturan.
Tinjauan dan Pembangunan Ulang GRC TI
Sebuah bank digital berupaya memperkuat kerangka kerja tata kelola, risiko, dan kepatuhan (GRC) TI-nya untuk mengatasi persyaratan peraturan yang terus berkembang dan risiko operasional. Kontrol internal utama perlu ditinjau dan diselaraskan dengan praktik terbaik industri dan peraturan setempat.
Tantangan
Sebuah bank digital terkemuka berupaya memperkuat kerangka kerja tata kelola, risiko, dan kepatuhan (GRC) TI-nya untuk mengimbangi ekspektasi regulasi dan risiko operasional yang terus berkembang.
Seiring waktu, lingkungan pengendalian bank menjadi terfragmentasi, dengan kebijakan dan prosedur yang tidak lagi sepenuhnya selaras dengan praktik terbaik saat ini atau persyaratan peraturan setempat.
Manajemen membutuhkan tinjauan objektif terhadap kerangka kerja TI GRC untuk memastikan kerangka kerja tersebut tetap efektif, siap diaudit, dan dapat disesuaikan dengan strategi pertumbuhan digital bank.

Pendekatan Kami
KED Consulting melakukan tinjauan komprehensif terhadap instrumen tata kelola TI bank, yang mencakup kebijakan, prosedur, dan mekanisme pengendalian. Setiap komponen dinilai berdasarkan kerangka kerja terkemuka seperti COBIT, NIST, dan ISO 27001, serta peraturan OJK dan BI yang relevan.
Tim kami mengidentifikasi kesenjangan utama dalam desain kontrol, akuntabilitas, dan dokumentasi, serta mengembangkan rekomendasi yang tepat sasaran untuk membangun kembali kerangka kerja GRC TI. Keterlibatan ini mencakup lokakarya validasi dengan pemangku kepentingan utama untuk memastikan kepraktisan dan keselarasan dengan prioritas organisasi.
Hasil
KED Consulting menghadirkan serangkaian instrumen GRC TI yang telah diperbarui — jelas, dapat ditindaklanjuti, dan siap diaudit. Kerangka kerja yang disempurnakan ini meningkatkan efektivitas pengendalian, memperkuat keselarasan dengan peraturan, dan meningkatkan kesadaran organisasi tentang risiko dan kepatuhan TI.
Sebagai hasilnya, bank kini berada pada posisi yang lebih baik untuk mengelola risiko TI secara proaktif, mempertahankan kepatuhan dari waktu ke waktu, dan mendukung pertumbuhan digital jangka panjangnya di bawah struktur tata kelola yang lebih tangguh.